Jumat, 04 Mei 2018 06:30 WITA

Orang Bergolongan Darah O Lebih Cepat Mati

Editor: Nur Hidayat Said
Orang Bergolongan Darah O Lebih Cepat Mati

RAKYATKU.COM - Sebuah tim peneliti membandingkan tingkat kematian antara pasien yang terluka/cedera parah, yang dipimpin oleh Wataru Takayama dari Tokyo Medical and Dental University Hospital, Jepang. 

Dilansir laman ScienceDaily, pasien-pasien itu dirawat di dua pusat perawatan darurat medis di Jepang antara 2013-2016. Tim peneliti itu membandingkan tingkat kematian dengan cara mengetahui golongan darah lebih dari 900 pasien.

Pasien dengan golongan darah berbeda seperti A, B, O, dan AB masuk dalam penelitian itu. Hasil penelitian mengungkapkan pasien dengan golongan darah O menghadapi tingkat kematian 28 persen.

Hal ini lebih tinggi tingkat kematiannya dari golongan darah A, B dan AB yang digabung prosentasenya hanya 11 persen. Lantas apa alasannya orang dengan golongan darah O tiga kali lebih rentan mati karena terluka parah dibanding golongan darah lainnya?

Para peneliti menduga hasil temuan yang mengejutkan ini berasal dari yang disebut faktor von Willebrand alias lambatnya pembekuan darah.

Orang dengan golongan darah O ternyata memiliki tingkat hemostatis (pembekuan darah) rendah. Jika terluka parah, maka darah akan terus mengucur dari lukanya karena proses pembekuan untuk menyumbat darah yang keluar lambat.

Sehingga pasien dengan golongan darah O meningkat resiko kematiannya karena kehabisan darah.

Meskipun tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengubah fakta yang tidak menyenangkan ini, Takayama dan timnya mengatakan bahwa temuan ini dapat membantu staf perawatan darurat rumah sakit untuk lebih siap ketika mendapat pasien luka parah dengan golongan darah O.

Karena orang dengan golongan darah O dapat menerima donor darah dari semua golongan darah lainnya maka bila terjadi pendarahan parah pada pasien golongan darah O, secara darurat bisa ditransfusikan darah golongan lainnya untuk mempercepat proses hemostatis, hal di atas baru hipotesis sementara tim peneliti pimpinan Wataru Takayama.

"Hasil penelitan kami juga menimbulkan hipotesis tentang bagaimana transfusi darurat sel darah merah golongan lain ketipe O yang terluka parah dapat mempengaruhi hemostatis, proses pembekuan darah." ujat Takayama.

Namun, karena tim peneliti pimpinan Takayama hanya melakukan tes kepada orang-orang Jepang saja yang belum tentu di negara berbeda hasilnya sama.