Senin, 05 Februari 2018 08:55 WITA

Ilmuan Kembangkan Cara Mendeteksi Alzheimer

Editor: Andi Chaerul Fadli
Ilmuan Kembangkan Cara Mendeteksi Alzheimer

RAKYATKU.COM - Ilmuan dari University College London mengembangkan sebuah tes yang dapat mengetahui penyakit Alzheimer. Tes memori sederhana ini dapat melihat penyakit tersebut bahkan tujuh tahun sebelum gejala muncul.

Dalam sebuah percobaan baru yang dipublikasikan di The Lancet Neurology, para ilmuwan percaya bahwa ini adalah cara paling awal untuk mendeteksi perubahan pada kognisi seseorang yang menyebabkan Alzheimer.
 
Percobaan tersebut dilakukan dengan cara menguji sebera baik memori setelah satu minggu. Sebanyak 35 orang turut serta dan 21 orang diantaranya menempatkan mereka pada risiko lebih tinggi terkena Alzheimer di usia 40 dan 50an.
 
Mereka diminta mengingat daftar objek, rincian diagram, dan fakta sebuah cerita. Dalam tes pertama, mereka diminta untuk mengingat kembali daftar tersebut setelah 30 menit. Kemudian untuk percobaan baru, jeda waktu diperpanjang sampai tujuh hari.
 
Tim peneliti menemukan bahwa mereka yang diprediksi memiliki Alzheimer merupakan orang yang lulus tes pada percobaan 30 menit namun kinerjanya turun drastis dalam tujuh hari. "Ini benar-benar kasus lupa yang dipercepat," papar Direktur Pusat Penelitian Demensia dan Profesor Neurologi di UCL, Nick Fox seperti dilansir dari laman Telegraph.
 
Penyakit Alzheimer disebabkan oleh plak amyloid lengket dan protein tau yang terbentuk di otak dan mencegah neuron saling berkomunikasi satu sama lain. Gejala dari penyakit ini seperti hilang ingatan, perubahan kepridian, perubahan suasana hati, hingga terjadi kerusakan otak yang sangat buruk.
 
Meskipun penelitian ini hanya dilakukan pada orang-orang pembawa mutasi genetik APP (amyloid precursor protein), para ilmuwan yakin penelitian tersebut dapat dikembangkan untuk mendiagnosis kondisi tersebut di masa depan.
 
"Tampaknya deteksi masalah ingatan jauh lebih cepat untuk mendeteksi Alzheimer daripada tes kognitif lainnya yang saat ini digunakan. Ada minat besar dalam mengembangkan dan menguji coba obat untuk penyakit Alzheimer sedini mungkin, sebelum kehilangan sel otak secara signifikan bahkan sebelum gejala klinis dimulai," papar ilmuwan medikal dari Center Clinical Research Associate, Dr. Phil Weston.
 
Tim ini berharap tes dapat digunakan untuk uji coba obat agar menunjukkan apakah ingatan seseorang semakin buruk atau ditahan oleh perawatan meski tidak ada gejala. Hal tersebut akan memungkinkan para ilmuwan untuk menguji coba obat jauh lebih awal agar dapat mencegah terbentuknya penyakit Alzheimer.