Selasa, 23 Januari 2018 18:51 WITA

Kisah Sedih Bocah Penderita Hydrosepalus di Bone

Editor: Almaliki
Kisah Sedih Bocah Penderita Hydrosepalus di Bone

RAKYATKU.COM, BONE - Muhammad Riski Bocah 3 tahun yang menderita penyakit langka (Hydrosepalus) hingga saat ini masih terbaring di rumahnya, dengan kondisi tubuh yang sangat lemah.

Muhammad Riski merupakan anak keenam dari pasangan Jamani dan Mahriani. Riski lahir tahun 2015 di Malaysia, dan ia jadi anak satu-satu.

Jamani (48) yang ditemui di rumahnya, Selasa (23/1/2017), menceritakan awal Riski menderita penyakit langka tersebut. Dia mengatakan, penyakit Riski bukanlah penyakit sejak ia lahir.

"Ini bukan penyakit sejak lahir, karena awalnya dia sangat sehat seperti bayi biasanya dengan ukuran berat yang normal," kata Jamani.

Lebih lanjut, ia menjelaskan saat berumur 7 bulan, Riski sudah mulai ada kelainan pada bagian kepalanya. Terlihat ada pembengkakan dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.

"Pada saat itu, dokter mengatakan bahwa ada cairan di kepalanya, dan itu harus segera dibuka. Jadi dokter menyarankan kalau punya uang sebaiknya segera dioperasi," jelas Jamani.

Setelah dioperasi, dokter berhasil mengeluarkan cairan dari kepala Riski. Setelah beberapa minggu, Riski kembali dioperasi sebab perutnya membengkak. Akhirnya ia kembali ke rumah sakit.

"Bahkan dokter di Malaysia sempat memvonis kalau Riski sudah tidak bisa diselamatkan. Dokter mengatakan, otaknya tidak berfungsi dan lambungnya berhenti berproses," katanya.

Vonis tak kunjung tiba, malah di rumah sakit, kondisinya sedikit demi sedikit membaik dan akhirnya keluar dari rumah sakit.

Saat itu orang tua Riski sepakat untuk kembali ke Indonesia, di kampung halamannya di Desa Tompo Bulu Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, tahun 2016.

Sesampainya di Bone, Riski pun tak kunjung sembuh malah kondisinya semakin menurun dan harus bolak-balik rumah sakit. Meski segala obat dan biaya rumah sakit ditanggung oleh BPJS, orang tua Riski harus mengeluarkannya dari rumah sakit, dikarenakan sudah tidak memiliki biaya untuk keperluan sehari-hari di rumah sakit untuk menjaga Riski.

"Saya meminta kepada dokter yang merawat Riski, kalau diperkenankan pulang, maka saya akan mengeluarkannya dari rumah sakit, karena saya sudah tidak memiliki biaya sehari-hari untuk tinggal di rumah sakit. Dokternya pun mengizinkan karena katanya diobati dan tidak diobati kondisi Riski tetap sama," tambahnya lagi.

Hingga saat ini, orang tua Riski pun berpasrah dan tetap terus berdoa demi kesembuhan putra satu-satunya. Menurutnya, putranya sangat kuat, karena mampu bertahan selama 3 tahun dengan penyakit yang dideritanya sejak usia 7 bulan.