Minggu, 12 November 2017 02:31 WITA

Dugaan Penyebab Dokter Helmy Tega Tembak Istrinya

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Dugaan Penyebab Dokter Helmy Tega Tembak Istrinya
ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Kasus penembakan yang dilakukan oleh dr. Helmy hingga menewaskan istrinya, dr. Letty, masih menjadi perbincangan hangat publik. Apalagi setelah mendengar keterangan polisi yang menyebutkan bahwa pelaku membunuh korban karena mendapatkan “bisikan”. 

Mengingat sebelum kasus pembunuhan ini terjadi, rumah tangga pasangan ini mengalami percekcokan. Sehingga membuat sang istri mengajukan gugatan cerai. Banyak orang yang bertanya-tanya apakah cekcok rumah tangga memang bisa memicu halusinasi atau gangguan jiwa. 

Dikutip doktersehat.com, pakar kesehatan psikologi klinis dewasa, Christina Tedja, M.Psi menyebutkan bahwa percekcokan rumah tangga memang bisa mengganggu kejiwaan seseorang. Hanya saja, halusinasi juga tidak semudah itu muncul begitu saja. 

Bisa jadi penderitanya sudah memiliki riwayat halusinasi karena faktor genetik atau adanya pemicu yang bisa berupa stress yang sangat berat. Dalam banyak kasus, munculnya halusinasi memang bisa dipicu oleh faktor genetik. Karena alasan inilah kondisi ini sama sekali tidak mengenal kelas sosial, jenis kelamin, usia, atau bahkan profesi.

Adanya bisikan memang seringkali dikaitkan dengan gangguan kejiwaan. Salah satu penyakit yang erat kaitannya dengan kondisi ini adalah skizofrenia. Sebagai informasi, skizofrenia termasuk dalam masalah kejiwaan yang sangat berat sehingga bisa mengganggu kemampuan seseorang dalam membedakan mana yang realita dan mana yang merupakan fantasinya saja.

Hanya saja, menurut pakar kesehatan dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ yang berasal daari Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan, Jakarta, pelaku kasus penembakan ini harus diperiksa terlebih dahulu untuk mengetahui apakah memang mengalami gangguan kejiwaan atau tidak.

Hingga saat ini, belum ada visum et repertum et psikiatrikum atau visum yang dilakukan pada pelaku tindak pidana yang bertujuan untuk mengetahui jiwanya sehat atau bermasalah. Dengan adanya visum ini, pihak kepolisian bisa mendapatkan hasil anamnesis, hasil pemeriksaan dan observasi psikiatrik, dan berbagai hasil pemeriksaan fisik serta penunjang lainnya.