Rabu, 13 September 2017 01:00 WITA

Kerap Memakai Ponsel Bisa Menyebabkan Tumor Otak?

Editor: Fathul Khair Akmal
Kerap Memakai Ponsel Bisa Menyebabkan Tumor Otak?
Ilustrasi

RAKYATKU.COM - Ponsel pintar atau smartphone kini telah menjadi benda yang hampir tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Hanya saja, dibalik berbagai manfaat yang diberikan oleh ponsel ini, banyak orang yang khawatir jika penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan, khususnya dalam menyebabkan tumor otak. Apakah hal ini benar adanya?

Dikutip dari doktersehat.com, ponsel mampu memancarkan gelombang elektromagnetik yang merupakan radiasi yang bisa membahayakan kesehatan tubuh, khususnya dalam hal memicu penyakit kanker. Hanya saja, hingga saat ini, belum ada hasil penelitian yang berhasil membuktikan bahwa radiasi dari ponsel yang kita pakai bisa memicu kanker pada manusia.

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana dampak radiasi ponsel bagi otak. Namun, hanya satu penelitian yang berhasil membuktikan bahwa radiasi ponsel memang bisa memicu tumor otak pada tikus. 
Meskipun anatomi tubuh tikus percobaan kerap disamakan dengan tubuh manusia, dalam realitanya paparan yang diterima oleh otak tikus jelas akan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan yang diterima oleh manusia. Hal ini berarti kita juga masih belum bisa benar-benar menemukan bukti bahwa paparan ponsel ini bisa memicu kanker atau tumor pada otak.

Penelitian lain yang dilakukan di tahun 2017 ini juga menyebutkan bahwa meskipun memang ada keterkaitan antara tumor otak dan penggunaan ponsel, namun masih belum benar-benar cukup kuat untuk mendukung pernyataan bahwa benda elektronik ini mampu memicu tumor otak.

Melihat adanya fakta ini, ada baiknya kita tidak perlu khawatir berlebihan akan kemunculan tumor otak akibat dari penggunaan ponsel sehari-hari. Hanya saja, mengingat dampak dari penggunaan ponsel secara berlebihan memang sangat tidak baik bagi kesehatan tubuh, tetap saja ada baiknya memang kita mulai mengurangi penggunaannya.