09 August 2017 11:56 WITA

Buku Kontroversi Sarankan Kita Makan Lebih Banyak Garam

Editor: Suriawati
Buku Kontroversi Sarankan Kita Makan Lebih Banyak Garam
INT

RAKYATKU.COM - Sebuah buku baru berjudul The Salt Fix menuai kritikan karena menyarankan pembaca untuk makan lebih banyak garam, bukan menguranginya.

Buku tersebut ditulis oleh Ilmuwan New York, James DiNicolantonio, yang mengklaim bahwa Organisasi Kesehatan Dunia dan badan penasihat AS dan Inggris salah mengenai saran mereka untuk mengurangi asupan garam.

BACA JUGA: Ini Manfaat Bangun Pagi untuk Kesehatan

"Garam itu penting dan bagus untuk kita," kata DiNicolantonio. "Mengonsumsi lebih banyak garam akan mengurangi jumlah gula dalam makanan kita dan membantu menurunkan berat badan."

"Diet rendah garam bisa menyebabkan tulang rapuh dan kehilangan ingatan. Lebih banyak garam bisa memperbaiki diabetes."

"Sebagian besar dari kita tidak perlu makan makanan rendah garam. Sebenarnya, bagi sebagian besar dari kita, lebih banyak garam akan lebih baik untuk kesehatan kita daripada kurang."

Tapi, para pakar kesehatan di Inggris mengatakan bahwa seruan itu dapat membahayakan kesehatan orang.

Health Health England (PHE) mengatakan bahwa nasehat  James DiNicolantonio tidak hanya salah tapi juga berbahaya.  Prof Louis Levy, kepala ilmu gizi di PHE, mengatakan, "dengan menganjurkan diet tinggi garam, buku ini membuat kesehatan banyak orang berisiko dan ini meruntuhkan bukti yang diakui secara internasional bahwa diet tinggi garam terkait dengan tekanan darah tinggi, yang diketahui berisiko terkena penyakit jantung."

Namun, DiNicolantonio membela pendapatnya. Ia mengatakan, tidak ada bukti diet rendah garam dapat mengurangi tekanan darah pada sebagian besar orang.

"Bukti dalam literatur medis menunjukkan bahwa sekitar 80% orang dengan tekanan darah normal tidak sensitif terhadap efek peningkatan tekanan darah dari garam sama sekali. Di antara mereka yang memiliki prehipertensi, sekitar 75% tidak sensitif terhadap garam. Dan bahkan di antara mereka yang memiliki hipertensi full-blown, sekitar 55% benar-benar kebal terhadap efek garam pada tekanan darah," tulisnya.

Berbicara kepada The Guardian, DiNicolantonio menolak kritik dari PHE bahwa bukunya berbahaya. Ia mengatakan bahwa dia menganjurkan asupan garam "normal" antara 3.000 dan 6.000 mg sodium per hari.

BACA JUGA: Deteksi Jenis Penyakit Lidah dari Warnanya

"Jika diet tinggi garam benar-benar membahayakan kesehatan orang, maka mengapa populasi makan ikan asin tertinggi (Jepang, Korea Selatan, dan Prancis) hidup paling lama dengan tingkat penyakit jantung koroner terendah di dunia?" Katanya.

Tapi National Institute for Health and Care Excellence, yang melihat dampak pengurangan garam untuk populasi tahun 2013, mengatakan bahwa strategi pemerintah dapat mengurangi 20.000 kematian akibat penyakit jantung, setiap tahunnya.

American Heart Association (AHA) merekomendasikan konsumsi garam tidak lebih dari satu sendok teh atau setara dengan 2.300 miligram sodium, dalam sehari.