Senin, 14 Oktober 2019 15:59 WITA

Awalnya Dokter Salah Diagnosis, Kaki Gadis 7 Tahun ini Terpaksa Diamputasi

Editor: Suriawati
Awalnya Dokter Salah Diagnosis, Kaki Gadis 7 Tahun ini Terpaksa Diamputasi
Brogan-Lei Partridge

RAKYATKU.COM - Seorang gadis kecil harus rela kehilangan kedua kakinya setelah tertular radang selaput otak saat liburan.

Brogan-Lei Partridge menjalani amputasi setelah awalnya dokter salah mendiagnosisnya. Pada saat pertama kali ia dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa dia hanya sakit perut biasa, dan dia diizinkan pulang.

Tapi, beberapa jam kemudian dia harus dikirim kembali ke rumah sakit, dan menghabiskan minggu berikutnya dalam keadaan koma.

Gadis asal Birmingham ini rupanya telah tertular septikemia yang disebabkan oleh Meningitis B.

"Kami baru saja kembali dari istirahat keluarga ketika dia menderita meningitis," kata ibunya, Amy Partridge.

Dia mengatakan bahwa sepulang dari liburan, gadis kecilnya susah tidur dan muntah.

Awalnya Dokter Salah Diagnosis, Kaki Gadis 7 Tahun ini Terpaksa DiamputasiSetelah penyakitnya diketahui, orangtuanya diberi tahu bahwa si kecil berada dalam situasi 'hidup atau mati' dan kakinya perlu diamputasi.

Loading...

"Kerusakan terjadi hanya dalam beberapa jam. Ketika kami pertama kali mengetahui dia akan kehilangan kakinya, kami pikir itu tidak mungkin itu terjadi," kata Amy.

"Aku tidak ingin gadis kecilku kehilangan kakinya, tetapi itu satu-satunya pilihan."

Pengalaman pahit itu terjadi empat tahun lalu. Sekarang Brogan sudah berusia 11 tahun, dan sedang berupaya membangun kembali hidupnya.

"Dia selalu memiliki pola pikir yang baik dan bertekad untuk mendapatkan kemerdekaan penuhnya kembali," kata ibunya.

Awalnya Dokter Salah Diagnosis, Kaki Gadis 7 Tahun ini Terpaksa DiamputasiMeningitis adalah radang selaput otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh virus, atau bakteri dan jamur.

Gejalanya termasuk sakit kepala, demam, dan leher kaku. Sebenarnya, meningitis mungkin dapat pulih sendiri tapi kadang juga bisa mengancam jiwa dan menyebabkan kematian.

Loading...
Loading...