Selasa, 13 Agustus 2019 01:30 WITA

Gawai Bisa Menjadikan Anak Terlambat Berbicara

Editor: Nur Hidayat Said
Gawai Bisa Menjadikan Anak Terlambat Berbicara
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Gawai tak hanya dipakai orang dewasa, kini gawai pun banyak digunakan oleh anak-anak. Kebiasaan itu bisa menyebabkan anak terlambat bicara.

Sebenarnya ada beberapa penyebab anak terlambat bicara dan yang terbanyak di antaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi ini sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional.

Akan tetapi, salah satu penyebab anak telat bicara yang perlu diwaspadai juga adalah penggunaan gawai yang terlalu dini dan berlebih. Tumbuh kembang setiap anak bisa berbeda-beda, termasuk kemampuan berbicara.

Di usia 12 bulan anak biasanya dapat mengucapkan 1-2 kata, mengenali nama dan meniru suara yang familiar. Menginjak usia 18 bulan, kosakata anak akan bertambah banyak (sekitar 10-20 kata) dan mulai mengombinasikan 2 kata.

Kemudian menginjak usia 2 tahun, anak sudah mulai berbicara 2-3 kata yang digabungkan dalam 1 kalimat. 

Menurut penelitian yang dipresentasikan di the Pediatric Academic Societies Meeting di Toronto, Kanada, dilaporkan penggunaan gawai dapat membuat anak balita mengalami gangguan bahasa dan telat bicara. Penelitian yang dilakukan pada 894 anak usia 6 bulan - 3 tahun ini dilakukan pada tahun 2011-2015. 

Berdasarkan wawancara dan pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan bahwa pada usia 18 bulan, 20 persen anak menggunakan gawai paling tidak 28 menit setiap harinya. Gawai yang dimaksud di sini termasuk ponsel dan tablet. 

Loading...

Para peneliti menduga bahwa semakin lama dan semakin sering (misalnya setiap hari) intensitas balita menggunakan gawai, semakin tinggi risiko balita mengalami terlambat bicara. Semisal setiap peningkatan waktu 30 menit balita menggunakan gawai, maka akan meningkatkan risiko telat bicara hingga 49 persen.

The American Academy of Pediatrics telah mengeluarkan panduan yang berisi penggunaan gawai tidak dianjurkan untuk digunakan pada anak di bawah usia 18 bulan, kecuali untuk penggunaan video call dengan keluarga.

Untuk anak yang usianya lebih besar (18-24 bulan), penggunaan gawai sebenarnya diperbolehkan, namun tetap batasi waktunya, dan sebaiknya orang tua memilihkan aplikasi atau tayangan yang bersifat edukasi bagi anak. 

Sedangkan untuk anak usia 2-5 tahun, sebaiknya penggunaan gawai dibatasi maksimal 1 jam sehari (termasuk TV) dan orang tua harus menemani dan membantu anak memahami tayangan tersebut. Sementara itu, untuk anak usia di atas 6 tahun, terapkan batas yang konsisten dalam penggunaan gawai, termasuk media sosial.

Sumber: KlikDokter

Tags
Loading...
Loading...