Selasa, 16 Juli 2019 00:01 WITA

Buteyko Breathing Alias Tidur dengan Mulut Diplester, Minat Coba?

Editor: Nur Hidayat Said
Buteyko Breathing Alias Tidur dengan Mulut Diplester, Minat Coba?
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Akhir-akhir ini publik sedang hangat memperbincangkan manfaat di balik Buteyko Breathing atau tidur dengan mulut diplester.

Buteyko Breathing jadi buah buah bibir di masyarakat luas karena metode seperti itu dianggap aneh dan terkesan berbahaya. 

Berikut beberapa penjelasan terkait fakta medis yang ada di balik metode Buteyko Breathing.

Metode Buteyko Breathing ini didasarkan pada asumsi bahwa banyak masalah medis, termasuk asma, disebabkan oleh peningkatan laju pernapasan kronis atau pernapasan yang lebih dalam (hiperventilasi).

Namun, teori ini tidak didukung secara luas dalam dunia medis karena kurangnya bukti kuat yang mendukung teori di balik metode yang sebenarnya sudah dikembangkan selama 40 tahun ini. 

Metode ini, konon dapat melatih kembali pola pernapasan melalui latihan pernapasan dalam dan berulang untuk memperbaiki hiperventilasi.

Menurut para pendukung metode ini, hal itu akan mengobati atau menyembuhkan asma serta kondisi lain, seperti Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) yang cenderung disebabkan oleh hiperventilasi.

Inti dari metode Buteyko Breathing adalah serangkaian latihan suatu teknik pernapasan yang berfokus pada pernapasan hidung, penahan napas, dan relaksasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Buteyko Institute Method menunjukkan beberapa pasien dengan keluhan mendengkur atau mengorok dapat dibantu untuk bernapas lebih lembut dan lancar saat bangun dengan teknik Buteyko Breathing. Hal tersebut juga mengarah ke perubahan pola pernapasan saat tidur.

Namun sebenarnya, orang-orang dengan masalah sumbatan jalan napas akan memiliki beberapa gejala, salah satunya adalah mendengkur.

Dalam hal ini, orang dengan sumbatan jalan napas justru akan merasa tidak nyaman jika menutup mulutnya dengan plester saat tidur. Ia akan merasa sesak dan napas jadi cenderung terengah-engah, bahkan terbangun dari tidur.

Loading...

Selain itu, individu dengan kelainan anatomis hidung juga akan merasakan hal yang sama ketika mulutnya diplester saat tidur. Orang tersebut akan merasakan napas tersengal, sebab metode Buteyko Breathing akan memfokuskan pernapasannya hanya pada hidung saat tidur.

Maka dari itu, jika Anda memiliki kebiasaan mendengkur saat tidur, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui adakah kemungkinan Anda memiliki sumbatan jalan napas.

Menurut sebuah penelitian, tidur dengan mulut terbuka bisa menambah risiko pengikisan enamel gigi. Sebab, ketika tidur dengan posisi mulut terbuka, air liur di dalam rongga mulut akan berkurang dan cenderung mengering.

Hal itu menyebabkan tingkat keasaman mulut meningkat karena kekurangan air liur yang dapat membunuh bakteri penghasil asam, sehingga berujung pada munculnya bau mulut.

Dengan hidrasi mulut yang baik atau air liur yang cukup, maka masalah bau mulut dapat diturunkan. Namun yang harus diingat juga, terbukti bahwa gangguan tenggorokan, hidung, perut, dan paru juga dapat menyebabkan bau mulut.

Mencuci mulut, flossing, dan membersihkan lidah adalah beberapa metode yang diresepkan oleh dokter untuk mengobati pasien bau mulut. Selain itu, agar Anda bernapas lebih segar, lebih baik minum air putih atau mengunyah permen karet bebas gula dengan campuran mint dibanding memplester mulut saat tidur.

Konsumsi rokok juga dapat dikaitkan dengan keberadaan bau mulut. Maka dengan menghindarinya, napas Anda akan lebih segar, lalu kesehatan pun lebih terjaga.

Kebiasaan tidur dengan mulut diplester yang baru ditularkan Andien memang memiliki dampak positif pada beberapa kondisi medis. Namun, karena penelitian Buteyko Breathing masih kontroversial, bagi Anda yang ingin mengikutinya, sebaiknya bisa mempertimbangkannya dengan ekstra bijak. 

Terlebih, jika ingin menularkan kebiasaan baru tersebut pada anak atau  anggota keluarga lainya. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu jika Anda ingin tahu lebih jauh tentang metode yang satu ini, untuk mencegah risiko yang membahayakan kesehatan Anda.

Sumber: KlikDokter

Loading...
Loading...