Kamis, 06 Juni 2019 21:02 WITA

Minuman Energi Dapat Meningkatkan Kerusakan Jantung

Editor: Suriawati
Minuman Energi Dapat Meningkatkan Kerusakan Jantung
Minuman energi

RAKYATKU.COM - Mengonsumsi minuman berenergi dapat mengganggu aktivitas listrik dalam tubuh, yang berpotensi menimbulkan irama jantung yang tidak teratur dan tekanan darah tinggi.

Itu menurut sebuah studi kecil yang diterbitkan dalam Journal of American Heart Association edisi Juni. Temuan itu menunjukkan bahwa mengkonsumsi minuman berenergi 32 ons dapat menciptakan kelainan jantung dan meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan meminum minuman non-energi.

"Kami menemukan hubungan antara mengonsumsi minuman energi dan perubahan interval QT dan tekanan darah yang tidak dapat dikaitkan dengan kafein," kata Sachin A. Shah, profesor praktik farmasi di Universitas Pasifik dan penulis utama studi.

Interval QT mengukur waktu jantung untuk bersiap untuk menghasilkan detak lagi. Interval yang terlalu panjang atau terlalu pendek dapat menyebabkan detak jantung abnormal, yang dapat mengancam jiwa.

Penelitian ini melibatkan 34 sukarelawan sehat dari usia 18 dan 40 tahun. Mereka diperintahkan mengonsumsi 32 ons salah satu dari dua minuman energi berkafein atau minuman plasebo. Minuman dikonsumsi dalam periode 60 menit.

Loading...

Setiap minuman berenergi terdiri dari 304 hingga 320 miligram kafein per 32 ons cairan. Sementara minuman plasebo hanya mengandung air berkarbonasi, penyedap ceri, dan jus jeruk nipis.

Para peneliti menggunakan elektrokardiogram untuk mengukur aktivitas listrik jantung para peserta dan mengambil tekanan darah mereka dalam interval 30 menit hingga empat jam setelah para peserta menghabiskan minuman mereka.

Hasil penelitian menunjukkan para peserta memiliki interval QT 6 milidetik atau 7,7 milidetik lebih tinggi dibandingkan peminum plasebo. Mereka juga mengalami peningkatan 4 sampai 5 poin pada tekanan darah sistolik mereka.

"Masyarakat harus menyadari dampak minuman energi pada tubuh mereka terutama jika mereka memiliki kondisi kesehatan lain yang mendasarinya," kata Shah.

Loading...
Loading...