Sabtu, 09 Maret 2019 10:34 WITA

Misophonia: Phobia Terhadap Suara dan Cara Mengelolanya

Editor: Suriawati
Misophonia: Phobia Terhadap Suara dan Cara Mengelolanya
INT

RAKYATKU.COM - Apakah Anda kerap merasa terganggu dengan suara mengunyah, ketukan atau suara pintu yang berderit?

Jika demikian, maka Anda mungkin memiliki misophonia, kelainan yang membuat Anda membenci suara yang dapat menyebabkan perasaan marah, cemas, dan panik.

Apa itu misophonia?
Misophonia yang berarti 'kebencian terhadap suara' adalah kondisi neurofisiologis di mana orang bereaksi secara abnormal terhadap suara spesifik normal.

Dalam beberapa kasus, penderita misophonia juga bisa bereaksi terhadap suara yang tidak menyenangkan misalnya, bernapas pelan atau berbisik.

Apa penyebab misophonia?
Para peneliti telah menyelidiki apakah misophonia disebabkan oleh kondisi kejiwaan atau fisik lainnya seperti OCD (gangguan obsesif kompulsif), gangguan makan, tinitus, atau gangguan stres pasca-trauma.

Menurut sebuah studi kasus yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Psychology, beberapa kondisi ini terkait dengan misophonia, tapi tidak semua kondisi ini dapat menjelaskan gejala misophonic. Itu membuat para peneliti menarik kesimpulan bahwa misophonia adalah kondisi yang terpisah dan independen.

Gejala misophonia
Gejala-gejalanya dimulai pada akhir masa kanak-kanak atau pada awal usia remaja.

  • Iritasi dan jijik berubah menjadi kemarahan
  • Menunjukkan agresi verbal atau fisik terhadap benda yang mengeluarkan suara menggangu
  • Depresi
  • Tekanan di dada
  • Tekanan darah meningkat
  • Otit tegang
  • Peningkatan suhu tubuh dan detak jantung

Cara mengelola misophonia

Loading...

Tidak ada obat untuk menyembuhkan misophonia, tapi itu dapat dikelola, dengan berbagai cara.

Salah satunya adalah terapi tinnitus retraining therapy (TRT), yang bertujuan untuk mengajarkan orang mentolerir suara. Dalam terapi ini, pasien diperkenalkan dengan musik yang menyenangkan atau suara lingkungan.

Ini memungkinkan mereka belajar untuk menciptakan asosiasi positif dengan suara melalui latihan dan pemikiran ulang yang disengaja.

Untuk hasil terbaik, terapi TRT dikombinasikan dengan terapi perilaku kognitif (CBT).

Studi menunjukkan bahwa terapi ini efektif dalam mengelola misofonia, karena CBT berfokus pada pikiran, perilaku, dan perasaan seseorang untuk mengidentifikasi pola yang tidak sehat dan menggantinya.

Cara lain untuk mengelola misofonia termasuk terapi bicara dan perubahan gaya hidup seperti olahraga, tidur yang tepat dan menghindari stres.

Loading...
Loading...