Sabtu, 05 Januari 2019 02:00 WITA

Kurang Tidur Bisa Bikin Gemuk, Kok Bisa?

Editor: Nur Hidayat Said
Kurang Tidur Bisa Bikin Gemuk, Kok Bisa?
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Porsi makan biasa-biasa saja, tetapi berat badan terus melambung? Coba evaluasi kualitas tidur Anda. Itu karena kurang tidur bisa bikin Anda gemuk. Kok bisa?

Bebanyakan orang tahu kegemukan berhubungan dengan asupan kalori yang berlebihan. Akan tetapi, tak banyak yang tahu ada komponen penting lain yang juga memengaruhi berat badan, yakni kecukupan dan kualitas tidur.

Banyak studi menunjukkan kurang tidur akan memengaruhi nafsu makan seseorang. Ini adalah salah satu hal yang mampu menjelaskan mengapa banyak orang yang kurang tidur kronis cenderung memiliki berat badan berlebih, bahkan obesitas. Sebut saja mahasiswa yang kerap begadang, orang tua baru, dan para pekerja shift.

Di dalam tubuh, nafsu makan dipengaruhi oleh dua hormon, ghrelin dan leptin. Seseorang yang kurang tidur akan mengalami peningkatan kadar hormon lapar, yakni ghrelin, dan penurunan kadar hormon kenyang, yakni leptin. Bila ini terjadi, maka seseorang akan cenderung makan berlebihan dan mengalami peningkatan berat badan.

Ada pula hormon lain, yaitu endocannabinoids, yang kadarnya juga dipengaruhi oleh kecukupan waktu tidur. Kadar hormon ini cenderung meningkat pada siang ke sore hari pada individu yang kurang tidur, dan mendorong seseorang untuk terus makan agar merasa nyaman. Kondisi ini juga dikenal sebagai comfort atau hedonic eating.

Wujud dari terganggunya hormon-hormon ini tampak pada studi-studi yang menyebutkan bahwa saat kurang tidur, seseorang cenderung mengonsumsi 300 kalori lebih banyak per hari ketimbang saat waktu tidurnya cukup. Sebagian besar kalori ekstra ini berasal dari konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan lemak.

Selain nafsu makan, kurang tidur juga memengaruhi laju metabolisme dan pembakaran kalori. Ada studi yang menemukan bahwa pada pagi setelah sebelumnya kurang tidur, pembakaran kalori akan berkurang hingga 5-20 persen untuk proses-proses seperti bernapas dan mencerna, ketimbang saat cukup tidur. Ini menunjukkan bahwa kurang tidur membuat metabolisme tubuh melambat, yang membuat tubuh cenderung menyimpan lebih banyak lemak.

Menurut studi yang dimuat dalam jurnal Annals of Internal Medicine, kurang tidur selama empat hari saja sudah bisa meningkatkan berat badan. Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus, efeknya tidak hanya membuat seseorang menjadi gemuk, tetapi juga berisiko mengalami diabetes tipe 2.

Loading...

Kebutuhan tidur tiap orang berbeda-beda. Namun, pada umumnya orang dewasa membutuhkan waktu tidur sebanyak 7-9 jam sehari. Sebagian individu bisa kurang atau lebih dari itu, tapi normalnya tidak kurang dari 6 jam.

Namun, jumlah waktu tidur saja belum cukup untuk menentukan apakah pola tidur Anda sudah baik. Untuk bisa disebut sehat, pola tidur memiliki unsur keteraturan, dalam arti bangun dan tidur di waktu yang kurang lebih sama, serta bebas dari gangguan tidur seperti insomnia, henti napas saat tidur (sleep apnea atau restless leg syndrome).

Untuk mengetahui berapa jumlah jam tidur yang Anda perlukan, coba lakukan hal ini. Cari waktu atau pergi berlibur ketika Anda bisa benar-benar terbebas dari pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.

Tidurlah pada waktu biasanya Anda tidur, tetapi jangan menyetel alarm. Pada beberapa hari pertama, Anda mungkin tidur lebih banyak dari biasanya untuk “membayar” kekurangan waktu tidur selama beberapa waktu belakangan. Berikutnya, saat pola tidur sudah stabil, catat berapa jam Anda tidur, lalu ditambah atau dikurangi 15 menit. Inilah kebutuhan tidur Anda yang sesungguhnya.

Dari penjelasan di atas, kini bertambah lagi alasan untuk Anda lebih memperhatikan kualitas tidur, karena kurang tidur bisa berpotensi bikin gemuk. Perhatikan pula apakah faktor-faktor seperti gaya hidup, pekerjaan, stres psikologis, atau adanya penyakit tertentu membuat waktu tidur Anda kurang dan tidak berkualitas. Ini semua perlu dikenali dan dikelola agar tidak menimbulkan konsekuensi yang lebih kompleks, seperti diabetes dan hipertensi.

Sumber: KlikDokter

Loading...
Loading...