Sabtu, 08 Desember 2018 03:00 WITA

7 Dampak Negatif Berhenti Berhubungan Seks

Editor: Nur Hidayat Said
7 Dampak Negatif Berhenti Berhubungan Seks
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Bagi pasangan yang telah menikah khususnya, akan ada saatnya masa ketika hubungan seks menjadi tidak sesering sebelumnya. Bahkan bagi pasangan yang paling bergairah sekalipun, fase ini bukan tidak mungkin tidak akan dialami.

Sayangnya, efek yang ditimbulkan bila fase ini dibiarkan berlangsung berkepanjangan pun tidak menyenangkan. Baik laki-laki maupun wanita, ada perubahan pada tubuh yang akan dirasa. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental. 

1. Risiko gangguan ereksi meningkat

Dikutip Bustle, laki-laki yang mengalami dry spell memiliki risiko gangguan ereksi lebih tinggi. Penelitian tersebut memang lebih fokus pada lelaki yang lebih dewasa. 

Walau begitu, keseluruhan riset memiliki keterkaitan yang sangat kuat dan berujung pada kesimpulan bahwa aktivitas seks yang reguler memberikan efek positif bagi fungsi ereksi laki-laki.

2. Sistem imun tubuh jadi lemah

Aktivitas seks yang dilakukan secara reguler memberikan dampak yang positif bagi imun tubuh. Begitu sebaliknya.

Sebuah studi dilansir dari webmd menunjukkan orang yang melakukan seks lebih sering memiliki kadar antibodi immunoglobulin A lebih tinggi. 

Selain itu, paling tidak, seks yang rutin juga bisa membantu mencegah beberapa penyakit umum seperti pilek dan yang lain.

3. Menurunkan daya ingat

Penelitian soal ini memang masih belum terlalu banyak dan mendalam. Kendati begitu, beberapa studi menunjukkan bahwa orang yang memiliki aktivitas seks lebih banyak seringkali memiliki kemampuan yang baik dalam mengingat memori. 

Di samping itu, ada pula beberapa tanda bahwa seks membantu otak dalam bekerja dengan lebih baik, termasuk soal perkembangan neuron.

4. Mengganggu kesehatan sistem kardiovaskular

Loading...

Kehidupan seks yang baik memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kesehatan kardivaskular, terutama bagi pria. Aktivitas seks dapat membantu mengurangi homosistein, yakni suatu zat kimia sulfur yang mengandung asam amino. 

Zat ini ditemukan di dalam darah dan berpotensi meningkatkan terjadinya sklerosis alias penyumbatan pembuluh darah.

5. PMS jadi lebih menyakitkan

Bagi wanita, rasa nyeri ketika menjelang dan saat datang bulan adalah hal yang sangat mengesalkan. Nyatanya, hal ini bisa ditanggulangi dengan aktivitas seks yang teratur. 

Ketika mencapai orgasme, otot-otot rahim akan berkontraksi dan menyebabkan darah jadi lebih cepat keluar sehingga menurunkan rasa nyeri karena kram. Selain itu, tentu saja, level hormon endorfin yang meningkat juga sangat membantu mengurangi nyeri tersebut.

6. Jadi lebih mudah stres dan cemas

Seks akan membuat tubuh melakukan sekresi hormon 'bahagia': oksitosin dan endorfin. Dua hormon ini berperan sangat penting dalam manajemen stres. Selain itu, oksitosin juga memiliki benefit untuk membantu tidur dengan lebih nyenyak. 

Karena itu, jangan heran bila level stres dan cemas jadi meningkat ketika tidak lagi sering melakukan hubungan seks dengan pasangan.

7. Berdampak pada keharmonisan hubungan

Walau seks bukanlah jaminan utama keharmonisan suatu hubungan, aktivitas ini toh memiliki peranan yang cukup penting. Seks menjadi salah satu cara untuk membuat pasangan menjadi lebih dekat secara emosional. Secara umum pun, pasangan yang memiliki kehidupan seks baik juga memiliki hubungan emosional yang baik pula.

Sumber: IDN Times

Loading...
Loading...