Kamis, 06 Desember 2018 05:00 WITA

Fakta Ilmiah yang Buktikan Kebenaran Hadis tentang Zat Antibiotik pada Lalat

Editor: Abu Asyraf
Fakta Ilmiah yang Buktikan Kebenaran Hadis tentang Zat Antibiotik pada Lalat
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Lalat dianggap jenis serangga yang menjijikkan karena sering hinggap di tempat kotor. Anggapan ini tak sepenuhnya salah. Namun, di balik itu, binatang kecil ini memiliki zat antibiotik yang luar biasa.

Kandungan zat antibiotik itu disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kurang lebih 1.400 tahun lalu. Belakangan, sejumlah peneliti membuktikan kebenaran hadis tersebut secara ilmiah.

Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, "Jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan, kemudian angkatlah (lalat itu dari minuman tersebut), karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat." (HR. Al Bukhari)

Beberapa tahun kemudian, ketika menulis buku Asrar As Sunnah An Nabawiyah (Rahasia Sunnah Nabi), Syaikh Abdel Daem Al Kaheel menjelaskan kebenaran hadits ini dalam satu bab tersendiri dengan didukung oleh sejumlah penelitian, terutama penelitian Joan Clark dan kawan-kawan. 

Awalnya para ilmuwan dari Departemen Ilmu Biologi Universitas Macquarie ini tak percaya dan melakukan penelitian tentang lalat. Mereka berpegang pada teori bahwa lalat pasti memiliki antimikroba yang luar biasa untuk bisa bertahan hidup di daging busuk, kotoran, dan lingkungan kotor lainnya.

Dalam penelitian itu, para ilmuwan ini mengidentifikasi antibakteri pada tahap-tahap perkembangan lalat. "Penelitian kami merupakan bagian kecil dari usaha penelitian global untuk mendapatkan antibiotik baru," kata salah satu peneliti, Joan Clark.

"Tapi kami melihat di mana kami yakin terhadap apa yang belum pernah dilihat siapapun sebelumnya,” tambah Clark saat menjabarkan temuan penelitian dalam Australian Society for Microbiology Conference di Melbourne.

Dokter dari Australia itu melakukan penelitian tentang lalat dan menemukan bahwa permukaan luar tubuh lalat mengandung antibiotik yang dapat mengobati banyak penyakit. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa obat pada sayap itulah yang membuat lalat tidak terkena penyakit yang dibawanya sendiri.

Hasil penelitian Joan Clark ini cukup mengejutkan sekaligus memancing banyak ilmuwan lain untuk melakukan penelitian berikutnya. Hasilnya menunjukkan fakta lebih rinci bahwa cara terbaik mengeluarkan zat antibiotik pada lalat adalah dengan cara mencelupkannya ke dalam air. Sebab, zat antibiotik tersebut terutama terdapat pada permukaan luar tubuh dan sayapnya.

Dalam penelitian yang merupakan bagian dari tesis program PhD ini, para ilmuwan menguji empat spesies lalat berbeda, yaitu lalat rumah, lalat domba, lalat buah cuka, dan lalat buah Queensland yang bertelur di buah segar. Larva ini tidak membutuhkan banyak senyawa antibakteri karena mereka tidak bersentuhan dengan banyak bakteri.

Lalat melalui tahap kehidupan larva dan pupa sebelum dewasa. Pada tahap pupa, lalat terbungkus pelindung dan tidak makan. "Kami memperkirakan mereka tidak akan menghasilkan banyak antibiotik," ujar Ms Clark.

Larva-larva yang diteliti itu juga semua menunjukkan sifat antibakteri, kecuali lalat buah Queensland. Saat dewasa, semua lalat yang diteliti itu memiliki antibakteri, termasuk lalat buah Queensland. Mereka membutuhkan antibakteri, karena lalat-lalat dewasa itu terbang dan hinggap pada tempat-tempat kotor.

Menurut para peneliti itu, antibakteri itu terdapat di permukaan tubuh keempat jenis lalat yang diteliti, selain itu juga terdapat di bagian dalam tubuh atau usus. "Kamu menemukan aktivitas di kedua tempat," ujar Ms Clark.

"Alasan kami berkonsentrasi pada permukaan karena merupakan ekstraksi yang sederhana," katanya. Bahan antibiotik pada lalat itu kemudian diekstraksi dalam etanol, kemudian menyaring campuran ini untuk mendapatkan ekstrak kasar.

Ketika ekstraksi itu ditempatkan dalam larutan dengan berbagai bakteri, termasuk E.coli, Golden Staph, Candida (jamur), dan patogen rumah sakit umum, reaksi antibiotik terus diamati. Karena senyawa itu tidak berasal dari bakteri, setiap gen resisten pada mereka, mungkin tidak mudah berubah menjadi patogen. Diharapkan bentuk baru antibiotik akan memiliki efek terapi.

Setelah penelitian tersebut, seorang dokter dari Rusia kemudian mengembangkan pengobatan baru dengan lalat. Sedangkan Profesor Juan Alvarez Bravo dari Universitas Tokyo mengisyaratkan pengembangan pemanfaatan ekstrak lalat untuk pengobatan. 

Dalam Fatawa Mu’ashirah, Syaikh Dr Yusur Qardhawi ketika menerangkan hadits lalat ini juga menguatkannya dengan hasil penelitian yang menunjukkan kebenaran sabda Rasulullah bahwa dalam sayap lalat terdapat obat untuk menetralisir penyakit yang terdapat pada sayapnya yang lain.

Berita Terkait