Minggu, 11 November 2018 05:00 WITA

Japanese Encephalitis, Virus Radang Otak yang Menyebar Melalui Nyamuk 

Editor: Eka Nugraha
Japanese Encephalitis, Virus Radang Otak yang Menyebar Melalui Nyamuk 

RAKYATKU.COM --- Isu penyebaran kasus penyakit Japanese encephalitis di Pulau Bali merebak. Membuat kepanikan banyak orang. Kementerian Kesehatan langsung mengambil sikap. 

Apa sebenarnya Japanese encephalitis? disadur dari berbagai sumber, Japanese encephalitis disebut juga sebagai penyakit radang otak atau ensefalitis. Namun radang otak yang disebabkan oleh virus. 

Penyebaran virus ini bisa terjadi melalui berbagai macam media. Salah satunya adalah nyamuk culex (terutama Culex tritaeniorhynchus). Nyamuk ini biasanya lebih aktif pada malam hari khususnya di musim hujan. Bisa pula menyubar melalui babi, unggas liar, atau burung sawah dan ladang. 

Di Bali sendiri, kejadian penyakit radang otak ini dikaitkan dengan banyaknya area sawah dan peternakan babi di sana. 

Tahun 2016 lalu, mengutip data Kemenkes RI, jumlah kasus Japanese Encephalitis dilaporkan terjadi sebanyak 326 kasus. Kasus terbanyak berada di Bali dengan jumlah 226 (69,3 persen).

"Indonesia merupakan salah satu daerah yang menjadi jalur migrasi unggas liar misalnya. Selain itu, di dalam riset Rikhus Vektora (2016), Badan Litbangkes Kemenkes menemukan 22 spesies kelelawar yang terkonfirmasi mengandung virus (Japanese enchepalitis) di beberapa daerah di Indonesia," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono seperti yang dilansir CNN Indonesia.

Manusia sendiri bisa terinfeksi virus tersebut karena penyakit ini merupakan penyakit zoonosis (bersumber dari binatang). Penularan penyakit radang otak ini menular dari nyamuk ke manusia lewat nyamuk culex. Nyamuk ini bersifat antrosoofilik. 

Nyamuk ini tak cuma menghisap darah binatang tapi juga manusia. Penularan virus pun menular dari situ. Hanya saja manusia sendiri tidak menjadi sumber penyebaran virus Japanese Encephalitis ini. Manusia merupakan inang puncak (dead end host) untuk virus tersebut. 


Gigitan nyamuk yang terinfeksi penyakit ini akan menyebabkan munculnya gejala penyakit. Gejala ensefalitis akan muncul setelah 4-14 hari setelah gigitan nyamuk mengalami masa inkubasi. 

Gejala utama dari penyakit ini adalah demam tinggi mendadak, perubahan status mental, sakit kepala, sampai gejala gastriintestinal. 

Selain itu, gejalanya juga disertai perubahan gradual gangguan bicara, berjalan, adanya gerakan involuntir ekstremitas ataupun disfungsi motorik lainnya. 

Sekitar 1 dari 200 penderita japanese encephalitis ini menunjukkan gejala berat yang berkaitan dengan peradangan otak (ensefalitis) seperti kaku tengkuk, disorientasi, koma, kejang, lumpuh, dan demam tinggi.

Gejala yang berbeda atas penyakit radang otak ini menimbulkan gejala yang berbeda pada anak-anak. 

Pada anak, gejala awal biasanya berupa demam, iritabilitas, muntah, diare, dan kejang. Kejadian kejang terjadi pada 75 persen kasus anak. 

Secara umum, penyakit ini agak sulit untuk dikenali secara langsung. Pasalnya penyakit ini mirip dengan gejala flu.

Tags

Berita Terkait