Sabtu, 15 September 2018 17:22 WITA

Ahli Kesehatan: Hubungan Putus Nyambung Sangat Beracun

Editor: Suriawati
Ahli Kesehatan: Hubungan Putus Nyambung Sangat Beracun
Ilustrasi

RAKYATKU.COM - Tahukah Anda bahwa hubungan yang on-off alias putus-nyambung bisa menjadi racun bagi kesehatan mental Anda?

Menurut sebuah penelitian baru dari University of Missouri, Columbia, hubungan seperti itu terkait dengan tingkat penganiayaan yang lebih tinggi, komunikasi yang lebih buruk dan tingkat komitmen yang lebih rendah.
 
"Putus dan kembali bersama tidak selalu menjadi pertanda buruk bagi pasangan. Bahkan, bagi beberapa pasangan, putus dapat membantu mereka menyadari pentingnya hubungan mereka, memberikan kontribusi untuk hubungan yang lebih sehat dan lebih berkomitmen. Di sisi lain, pasangan yang secara rutin putus dan kembali bersama bisa berdampak negatif," kata peneliti, Kale Monk.

Dalam penelitiannya, Monk dan timnya memeriksa data dari lebih dari 500 orang yang menjalin hubungan. Mereka menemukan bahwa pasangan yang sering putus dan bersatu kembali mengalami lebih banyak gejala tekanan psikologis seperti depresi dan kecemasan.

Mereka tidak menemukan perbedaan yang berarti antara hubungan sesama jenis dan heteroseksual dalam pola ini.

Monk menyarankan agar pasangan yang kerap putus-nyambung membuat keputusan untuk menjaga hubungan mereka atau mengakhiri hubungan mereka dengan damai.

Selain itu, Monk juga memberikan beberapa tips untuk pasangan yang sering on-off. Pertama, pasangan harus berpikir tentang alasan yang menyebabkan putus, untuk menentukan apakah ada masalah yang terus-menerus mengganggu hubungan mereka.

Kedua, pasangan harus 'berbicara' dan membahas tentang isu-isu yang menyebabkan perpecahan. Ketiga, mereka juga dapat menghabiskan waktu untuk memikirkan alasan mengapa bersatu kembali lebih menguntungkan

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah, jangan ragu untuk mengakhiri hubungan yang beracun. Sebagai contoh, jika hubungan Anda tidak dapat diperbaiki, jangan merasa bersalah meninggalkan pasangan, demi kesehatan mental Anda.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Family Relations.