Sabtu, 11 Agustus 2018 08:10 WITA

Induksi Elektif Bisa Mengurangi Risiko Caesar

Editor: Suriawati
Induksi Elektif Bisa Mengurangi Risiko Caesar
INT

RAKYATKU.COM - Sebuah penelitian baru menemukan bahwa menginduksi persalinan pada usia kehamilan 39 minggu bisa mengurangi risiko bedah caesar.

Dalam studi ini, peneliti melacak lebih dari 6.100 wanita di seluruh Inggris. Setengah dari mereka diberi induksi elektif, sementara yang lain menunggu persalinan tanpa intervensi.

Induksi elektif adalah percepatan yang dilakukan untuk alasan nonmedis, biasanya dilakukan seminggu sebelum hari perkiraan lahir (HPL).

Hasilnya, mereka yang diinduksi pada kehamilan 39 minggu memiliki tingkat yang lebih rendah mengalami komplikasi, termasuk lebih sedikit caesar dengan perbandingan 19 persen vs 22 persen.

Temuan ini bertentangan dengan keyakinan bahwa induksi dapat meningkatkan kemungkinan operasi caesar.

Gagasan bahwa induksi dapat menyebabkan C-section didasarkan pada data yang membandingkan wanita yang melakukan persalinan secara spontan dengan seorang wanita yang diinduksi karena beberapa faktor, termasuk sebelum minggu ke-39 jika komplikasi berkembang, atau ketika wanita itu terlambat melahirkan dan telah melewati 40 minggu.

Berdasarkan penelitian baru ini, para peneliti mengatakan mereka memiliki firasat bahwa induksi pada minggu ke-39 untuk wanita yang sehat (ketika risiko untuk ibu dan anak berada pada titik terendah) akan menunjukkan hasil yang berbeda.

"Jika Anda melahirkan bayi sebelum 39 minggu, maka ada peningkatan risiko masalah medis," kata rekan penulis studi, Dr. Robert Silver, ketua kebidanan dan ginekologi di University of Utah Health.

"Setelah Anda mencapai 39 minggu, bayi cukup berkembang sehingga tidak ada keuntungan untuk menundanya (kelahiran)."

Temuan ini menerima dukungan dari American College of Obstetricians and Gynecologists dan Society for Maternal-Fetal Medicine.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, setiap tahun di Amerika, sekitar 700 wanita meninggal sebagai akibat kehamilan atau masalah melahirkan, sementara 50.000 mengalami komplikasi berat.