Jumat, 10 Agustus 2018 04:30 WITA

Kapan Waktu Terbaik Kabarkan Berita Buruk?

Editor: Nur Hidayat Said
Kapan Waktu Terbaik Kabarkan Berita Buruk?
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Berita buruk datang, rasanya amat mengguncang. Jangan biarkan kabar buruk tersiar pada waktu yang tidak tepat. 

Berita buruk datang tanpa diundang. Jika secara kebetulan Anda mendengar berita buruk yang ditujukan untuk kawan, maka apakah Anda langsung memberitahukannya? Sebaiknya jangan buru-buru!

Menurut dr Sepriani Trimurtini Limbong dari KlikDokter, berita buruk dapat memicu kesedihan. Hal ini membuat otak mengeluarkan zat kimia seperti interleukin-8 (IL-8) yang dapat memicu respons proses peradangan di seluruh tubuh.

"Senyawa interleukin dapat melemahkan sistem daya tahan tubuh dan membuat tubuh mudah terserang penyakit," kata dr. Sepri.

Lebih lanjut, dr Sepri menjelaskan bahwa adanya hormon stres?yaitu kortisol?dapat mengganggu kualitas tidur, membuat kadar gula darah tidak stabil, dan meningkatkan tekanan darah sehingga makin melemahkan kondisi fisik.

“Fakta lainnya, kesedihan juga memengaruhi kesehatan jantung. Sebuah penelitian yang dimuat di Openheart menunjukkan bahwa mereka yang berduka karena kematian pasangan, rentan mengalami gangguan irama jantung karena adanya senyawa sitokin yang dikeluarkan saat sedang berduka,” ungkap dr. Sepri.

Senyawa sitokin bersifat aritmogenik. Ini artinya, senyawa tersebut dapat membuat irama jantung tidak teratur. Bila dibiarkan, gangguan irama jantung dapat berakibat fatal, bahkan bisa menyebabkan serangan jantung.

Jadi, kapan sebaiknya berita buruk disampaikan kepada orang tertentu agar meminimalkan dampak negatif yang terjadi? 

Waktu terbaik menyampaikan berita buruk

Peneliti dari Neuroscience Institute di Princeton University, Neil Garrett, mengatakan bahwa orang umumnya bersikap optimis saat kondisi diri sedang tenang.

“Ketika orang sedang stres, optimisme akan hilang karena dia menjadi lebih waspada terhadap berita buruk. Ini menunjukkan bahwa optimisme layaknya sesuatu yang bisa naik turun, tergantung pada kondisi sekitar pada saat itu,” katanya.

Lingkungan memainkan peran kunci pada seberapa optimis Anda memandang sesuatu. Faktor lain berdasarkan aspek kejiwaan juga dilihat, misalkan apakah orang tersebut sedang menderita depresi atau tidak.

“Keputusan besar yang kita buat, seperti membeli rumah, memilih pekerjaan dan mengambil perawatan medis juga bisa sangat menegangkan. Seseorang dapat menjadi sensitif saat mendengar kabar buruk, namun kita bisa membaca perkiraan dengan menanamkan optimisme dalam diri,” ujar Garrett.

Jadi, dapat dikatakan bahwa waktu terbaik untuk menyampaikan berita buruk adalah saat diri Anda bersikap dan berpikir optimis. Tak lupa, sampaikan secara tenang dan mendalam, agar sang penerima berita dapat tabah dalam menerima keadaan yang sebenarnya.

Menghadapi berita buruk dengan cara positif

Butuh waktu lama untuk benar-benar pulih dari rasa sedih, khususnya saat berita buruk sampai ke telinga. Selama Anda mampu menjaga pola hidup sehat dan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang serta berolahraga secara teratur, maka semuanya akan mampu teratasi dengan sendirinya.

“Saat kondisi hati mulai membaik, Anda bisa berjalan di sekitar rumah. Selain baik untuk memulihkan kondisi fisik, aktivitas fisik ringan dapat membuat tubuh mengeluarkan dopamin yang membantu menciptakan perasaan nyaman dan senang,” jelas dr. Sepri.

Memang, kejadian menyedihkan dan berita buruk sering datang secara tidak terduga. Meski begitu, tetaplah berusaha untuk bersikap tenang dan optimis. Jangan pernah sungkan untuk membicarakan kesulitan yang dialami dengan sahabat atau psikolog jika memang dirasa perlu. Pada akhirnya, Anda akan tetap merasa kuat dan siap menjalani kehidupan dengan semangat yang lebih baik.