Jumat, 10 Agustus 2018 03:30 WITA

Janin Bisa Menangis di Dalam Rahim?

Editor: Nur Hidayat Said
Janin Bisa Menangis di Dalam Rahim?

RAKYATKU.COM - Anda mungkin mengira bayi baru akan menangis saat dilahirkan. Faktanya janin pun bisa menangis dalam rahim. 

Sejak bayi masih di dalam rahim, sesungguhnya ia sudah mulai mempelajari dunia luar. Nyatanya, janin dapat merespons stimulus eksternal seperti suara, cahaya, gerakan ibu, ayah atau saudara yang sedang mengusap-usap perut ibu.

Di dalam rahim, janin juga bisa terkejut, pipis, berputar-putar hingga melakukan gerakan akrobatik ke sana kemari. Tetapi, bagaimana dengan menangis? Apakah perilaku ini sudah muncul sejak janin masih di dalam kandungan?

Sebuah studi pada tahun 2004 mencoba menyelidiki perilaku janin di dalam rahim terhadap paparan rokok dan kokain. Terdapat lima aktivitas yang dilihat sebagai respons janin, yakni tidur nyenyak, keaktifan bergerak, terbangun namun tenang, terbangun dan aktif secara tiba-tiba, serta menangis.

Pada awalnya, peneliti berasumsi bahwa hanya empat aktivitas pertama yang terjadi di dalam rahim. Namun ternyata, di dalam rahim janin pun bisa menangis. Bahkan, studi ini mampu memperlihatkan rekaman video janin menangis di dalam rahim untuk pertama kalinya.

Dari video tersebut, janin menunjukkan perilaku menangis, menarik napas, membuka mulut dan menjulurkan lidah, kemudian memperlihatkan tiga kali tarikan napas berturut-turut sebelum akhirnya mengeluarkan nafas panjang. Dalam studi ini, peneliti menemukan bahwa perilaku ini didapatkan pada setidaknya 10 bayi lainnya.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa yang membedakan perilaku menangis pada janin di dalam rahim dengan bayi yang sudah lahir hanyalah suara tangisan. Pergerakan tubuh, mimik wajah, pola tarikan dan keluarnya napas, semua sama dengan perilaku bayi yang menangis pada umumnya.

Saat usia kehamilan mencapai 20 minggu, sebenarnya janin telah memiliki semua hal yang diperlukan untuk menangis. Ia sudah mampu mengenali stimulus dan memberikan respons.

Saat menangis, janin sudah mampu melakukan gerakan napas yang terkoordinasi, membuka mulut, dan menggetarkan dagu. Karenanya, bayi prematur pun tetap bisa menangis seperti bayi yang lahir cukup bulan.

Meski demikian, ekspresi perilaku menangis yang sesungguhnya baru dapat terekam dengan jelas melalui pemeriksaan USG pada trimester ketiga ibu hamil, yakni sejak usia kehamilan 28 minggu.

Tangisan memiliki dua komponen, yakni komponen vokal dan non-vokal. Komponen vokal dari tangisan yang baru muncul saat bayi lahir merupakan cara bayi untuk berkomunikasi dengan pengasuh bahwa dirnya.

Suara tangisan bayi menandakan bayi membutuhkan bantuan, saat dalam keadaan tidak nyaman, atau perlu dipindahkan dari situasi yang mengancam dirinya. Secara harfiah, ini merupakan salah satu mekanisme bertahan hidup.

Sedangkan komponen non-vokal, yang sudah dapat ditunjukkan oleh janin di dalam rahim bisa dianggap sebagai salah satu milestone atau capaian penting dalam tahapan pertumbuhan janin.

Alasannya karena perilaku menangis membutuhkan koordinasi dari berbagai sistem di dalam tubuh, seperti otak, otot-otot wajah, dan pernapasan. Ini menunjukkan bahwa otak, sistem saraf, dan tubuh janin bekerja dengan baik, sehingga ia mampu mengenali, memproses, dan merespons stimulus dari luar rahim.

Pada kenyataannya janin di dalam rahim sudah bisa menangis, namun dengan cara yang sedikit berbeda. Oleh sebab itu, selama masa kehamilan, ibu hamil harus menjaga asupan nutrisi dan menghindari kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol. Gaya hidup sehat akan menghasilkan si Kecil yang sehat juga.

Sumber: Klik Dokter