Kamis, 09 Agustus 2018 05:30 WITA

Benarkah Obat Herbal Lebih Aman Dibandingkan Obat Kimia?

Editor: Abu Asyraf
Benarkah Obat Herbal Lebih Aman Dibandingkan Obat Kimia?
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Sebagian orang berani mengonsumsi obat-obatan herbal ketika sakit. Namun, berpikir berkali-kali untuk mengonsumsi obat-obatan kimia yang diresepkan dokter. Benarkah obat-obatan herbal lebih aman?

Peneliti dari Australia menemukan adanya kesalahpahaman yang beredar di masyarakat bahwa obat herbal selalu aman. Alasannya, karena telah digunakan selama ribuan tahun silam. Ternyata ada yang menyebabkan risiko kesehatan bagi penggunanya. 

Dalam sebuah studi, peneliti dari University of Adelaide mengatakan beberapa obat-obatan herbal yang populer, yang telah digunakan selama beberapa generasi, sebenarnya mengandung bahan beracun dari tanaman dan hewan. 

Dikutip dari Xinhua, Prof Roger Byard mengatakan timnya menemukan sejumlah kondisi medis akibat beberapa perawatan herbal antara lain gagal ginjal dan kerusakan hati. 

"Efek samping racun obat-obatan herbal yang digunakan dalam masyarakat tradisional biasanya tidak dilaporkan. Kendati begitu, kurangnya pengamatan bisa berdampak merugikan bahkan serius, seperti gagal ginjal dan kerusakan hati yang disebabkan oleh beberapa spesies tanaman," ujar Byard. 

Sementara itu, Dr Ian Musgrave dari bagian Farmakologi, mengatakan banyak pasien tidak mau repot memeriksa bahan-bahan dari beberapa obat-obatan herbal, karena berasumsi obat itu telah digunakan sejak lampau dan aman. 

Byard menganjurkan agar otoritas untuk barang terapeutik Australia (TGA), mengharuskan produsen memiliki sampel yang diuji secara independen sebelum menempatkan produk mereka di pasar demi mencegah masalah kesehatan di masa mendatang. 

Dokter spesialis bedah saraf dr Roslan Yusni Hasan, SpBS mengatakan, kategorisasi obat alami dan kimia sebenarnya salah besar. Menurut dia, semua obat berasal dari alam.

Roslan mencontohkan, air yang menjadi kebutuhan dasar manusia merupakan senyawa kimia. Senyawa yang menjadi syarat kehidupan di bumi itu terdiri dari hidrogen dan oksigen. 

Menurut Roslan, obat yang baik harus diketahui secara detail kandungan aktifnya sebelum dikonsumsi. Selain itu, cara kerja obat di dalam tubuh juga perlu mendapat perhatian. 

Tak berhenti sampai di situ, efek samping setelah obat dikonsumsi dan cara penanganannya juga harus diketahui. Jika syarat-syarat di atas tidak diketahui, maka upaya penyembuhan pun menjadi tak terukur. Akan tetapi, pada obat herbal atau obat tradisional, syarat tersebut seringkali tidak diindahkan. 

"Misalnya panas, dikasih paracetamol, dosisnya 50 miligram per kilogram berat badan per hari. Efek sampingnya bisa ganggu pencernaan. (Sedangkan) jamu belum jelas bahan aktifnya apa, dosisnya ya kira-kira saja. Karena tidak tahu bahan aktifya, tidak tahu juga efeknya,” ucap Roslan.