Rabu, 11 Juli 2018 07:00 WITA

Bayi Ternyata Juga Bisa Terkena Stroke

Editor: Fathul Khair Akmal
Bayi Ternyata Juga Bisa Terkena Stroke
Ilustrasi/Foto: Getty

RAKYATKU.COM - Seorang bayi di Hartsville, South Carolina, Amerika Serikat dikabarkan mengalami stroke. Sang ibu, Denise Tedder memiliki kecurigaan adanya komplikasi sejak mengandung anak laki-lakinya itu. Kondisi ini dipicu setelah dia kehilangan anak pertamanya di usia lima minggu akibat hidrops, yakni kondisi janin yang disebabkan akumulasi cairan abnormal dalam kompartemen janin.

"Golongan darah saya Rh-negatif dengan antibodi dan janin akan memiliki darah positif seperti ayahnya. Pada dasarnya yang terjadi adalah antibodi saya mengenali darah positif janin sebagai benda asing dan akan melakukan tugasnya sebagai antibodi untuk mencoba melindungi saya dan menghambat pasokan darah janin,"  kata Denise dikutip dari sindonews.com.

Guna melakukan penjegahan dirinya dan sang bayi, Denise bertemu dengan spesialis di Charlotte dan menjalani plasmapheresis, prosedur menghilangkan plasma dari sel-sel darah dan terapi imunoglobulin untuk memperkenalkan antibodi guna mencegah terjadinya infeksi. Selanjutnya dilakukan transfusi darah janin dengan cara janin diberi darah melalui tali pusar Denise.

"Tiba saatnya si kecil lahir, Cannon (nama anak Denise) memiliki tujuh transfusi sebelum dia dilahirkan melalui C-section. Beratnya 2,3 kg dan menangis layaknya bayi normal," jelas dia.

Cannon mendapatkan perawatan di unit perawatan intensif neonatal (NICU) Novant Health selama dua minggu karena masalah makan dan untuk menerima lebih banyak transfusi darah. Secara keseluruhan Denise menilai bahwa buah hatinya itu merupakan bayi yang sehat. Namun enam bulan kemudian, Denise melihat ada hal yang tak wajar pada Cannon.

Denise dan sang suami, Dustin, membawa Cannon ke spesialis saraf untuk melakukan X-ray dan beberapa tes. Hasil tes menunjukkan Cannon kemungkinan besar mengalami stroke. 

"Dia terus menyimpan tangannya dengan kepalan tangan dan menyelipkan ibu jarinya ke dalamnya dan dokter menyadarinya. Yang kami tahu bayi kami tidak terserang stroke. Dia tidak pernah mengalami kejang dan bayi tidak terkena stroke, itulah yang kami pikirkan," ungkapnya.

Hasil MRI scan Cannon cukup mengerikan sehingga membuat Denise dan Dustin shock. Seluruh sisi kiri otak buah hatinya itu rusak. 14 bulan kemudian, mereka mendapat diagnosis resmi untuk Cannon yang mengalami hemiparesis atau kelemahan dari satu sisi tubuh. Sedangkan, transfusi darah yang dilakukannya selama ini diungkapkan Denise tidak berhubungan dengan penyakit anaknya itu.

"Dia menderita stroke, itu stroke besar. Cukup besar untuk membunuh lelaki dewasa. Sisi kiri otaknya tampak hitam dan kosong. Sisi kanannya terpengaruh. Stroke terjadi di otak sebelah kirinya. Dan dia memiliki cerebral palsy ringan," ungkapnya.

"Dia (Cannon) menjalani terapi okupasi dua kali seminggu, terapi fisik seminggu sekali dan terapi bicara seminggu sekali. Baru-baru ini dia menyelesaikan terapi gerakan yang diinduksi selama tiga minggu di Children's's Hospital of Alabama. Saya juga mencari suntikan Botox, yang dapat membantu mengendurkan sebagian ototnya," tandasnya.

Sementara, American Stroke Association menjelaskan stroke merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian anak-anak usia 19 tahun ke bawah. Tak hanya menyerang lanjut usia, penyakit ini juga bisa dialami anak-anak, bayi hingga janin. Bahkan pada beberapa kasus, ada wanita menjalani kehamilan sempurna dan melahirkan namun anak mereka mengalami stroke.

Tags