Kamis, 05 Juli 2018 00:30 WITA

Kadar Testosteron Pria Bisa Diukur dari Gayanya saat Berbelanja 

Editor: Abu Asyraf
Kadar Testosteron Pria Bisa Diukur dari Gayanya saat Berbelanja 
ILUSTRASI (FOTO: DMARGE)

RAKYATKU.COM - Ada yang mengejutkan dari sebuah penelitian baru-baru ini. Kadar testosteron pria ternyata bisa diukur dari gayanya saat berbelanja. Ada pengaruh antara tinggi atau rendahnya testosteron dengan merek barang yang dibeli.

Dikutip dari D'Marge, riset ini dilakukan oleh peneltii dari the California Institute of Technology. Hasil riset menunjukan pria dengan kadar testosteron yang tinggi memiliki preferensi yang lebih besar untuk memiliki barang-barang yang dianggap simbol status. 

Dengan kata lain, pria dengan testosteron tinggi akan lebih mungkin untuk membeli produk dari merk dan perancang terkenal. Riset dilakukan dengan meneliti 243 pria berusia 18 hingga 55 tahun yang dipilih secara acak. Semua peserta juga diberikan gel testosteron atau gel plasebo. 

Ketika kadar testosteron dalam darah mereka mendekati puncak, peneliti mengukur preferensi pilihan barang peserta. Data menunjukan pria yang menerima dosis testosteron tinggi memiliki preferensi yang lebih kuat untuk memilih barang bermerek mewah. 

Namun, pria yang menerima gel plasebo justru memilih sebaliknya. Menurut Colin Camerer, salah satu periset, fungsi testosteron ini bisa kita lihat pada dunia hewan untuk menghasilkan perilaku mencari status dan mempertahankan status. 

Menurutnya, ada banyak perilaku adaptasi manusia yang mirip dengan primata. Hanya saja, manusia mengganti agresi fisik dengan sifat konsumerisme. Fenomena ini sama halnya dengan burung merak. Binatang tersebut tak perlu melebarkan sayap indahnya jika tak ingin menarik pasangan. Padahal, melebarkan sayap membuat merak lebih sulit untuk melarikan diri dari pemangsa. 

Sedangkan pria yang membeli mobil sport seharga miliaran rupiah sebenarnya bisa menggunakan uang tersebut untuk hal yang lebih bermanfaat, bukan hanya sekadar menunjukan statusnya. 

Pada dunia hewan, pejantan menghabiskan banyak waktu dan energi untuk berjuang membangun dominasi. "Ini juga terjadi pada manusia. Tapi, manusia menggunakan barang-barang mewah seperti kendaraan, rumah, dan pakaian mahal,” kata Cameron.