Kamis, 07 Juni 2018 06:30 WITA

Sudah Bernilai Rp409 Triliun, Risiko Robot Seks Ternyata Lebih Mengerikan

Editor: Abu Asyraf
Sudah Bernilai Rp409 Triliun, Risiko Robot Seks Ternyata Lebih Mengerikan
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Banyak yang menganggap robot seks bisa memberikan kepuasan seksual bagi pria yang kesepian dengan aman. Ternyata, hasil penelitian menunjukkan risiko penyakit seksual yang timbul jauh lebih mengerikan. 

Dikutip dari The Sun via Kompas.com, fenomena robot seks lebih banyak memberikan dampak negatif. Penggunaan sexbots, sebutan robot seks, yang meningkat dapat menyebarkan infeksi menular seksual, memperburuk impotensi dan menormalkan “penyimpangan seksual”. 

Para penggemar mesin-mesin ini selalu berpendapat, sexbot membantu “pengurangan dampak buruk” dengan menawarkan pelipur lara, bahkan mengurangi kejahatan seks terhadap perempuan dan anak-anak. 

Namun, Dr Chantal Cox-George, dari Rumah Sakit Universitas St George NHS Foundation Trust, dan Profesor Susan Bewley, dari King's College London, mengatakan, pendapat para penggemar tersebut belum memiliki bukti kuat.  
Salah satu yang ditakutkan adalah perilaku ilegal, seperti pedofilia, lebih diterima secara sosial. Seperti yang ditulis dalam jurnal BMJ Sexual & Reproductive Health, diungkapkan fakta menguntungkan pengembangan pasar sexbot masih bersifat spekulatif. 

“Argumen ‘sehat’ yang dibuat untuk keuntungan mereka, dengan begitu banyak produk yang diiklankan, masih bersifat spekulatif,” tulis peneliti di jurnal itu. 

Para peneliti mengingatkan, petugas medis sebaiknya menghindari hubungan intim dengan sexbot, karena berisiko kehilangan kepercayaan publik. Terlalu dini jika sexbot dipasarkan dengan klaim untuk mengobati kesulitan berhubungan, seperti impotensi. 

Justru, kurangnya keintiman dengan pasangan dapat membuat masalah disfungsi ereksi lebih buruk. Para peneliti juga khawatir, penggunaan sexbot untuk “mengobati” pedofilia atau menghayati fantasi yang penuh kekerasan justru membantu menormalkan perilaku tersebut. 

Saat ini, industri teknologi seks sudah bernilai lebih dari 22 miliar poundsterling atau sekitar Rp409 triliun. Empat perusahaan AS sudah menjual sexbot dengan harga mulai dari Rp74 juta hingga Rp215 juta untuk supermodel, "Harmony".

Meskipun saat ini ditargetkan untuk pria, pembuat sexbot berencana untuk menjual versi pria untuk perempuan pada akhir tahun ini. Profesor Universitas Sheffield Noel Sharkey, ketua Foundation for Responsible Robotics, sebelumnya memperingatkan era “robot seks akan segera datang”. 

Prof Sharkey, mantan hakim kepala di Robot Wars, mengungkapkan, para produsen melakukan pekerjaan pemasaran besar-besaran pada manfaat kesehatan robot seks, terutama untuk terapi, namun sama sekali tidak ada bukti untuk ini. 

“Mungkin ada manfaat terapeutik dalam beberapa kasus, namun mesin seks ini akan segera diluncurkan sebelum kita tahu. (Karena itu) kita harus melakukan penelitian untuk mendukung klaim tersebut,” ujar Sharkey.